cuap-cuap pam-pam

‘I believe the children are our future
teach them well and let them lead the way
Show them all the beauty they possess inside
Give them a sense of pride to make it easier
Let the children’s laughter remind us how we used to be’

-The Greatest Love of All-

ya, setelah berfikir, mau nulis tema apa malam ini, akhirnya menuliskan apa yang justru baru saja terlintas setelah membaca salah satu artikel kompas.

Entahlah… saya hanya setuju dengan apa yang dinyanyikan bang Maher Zain di Awaken nya, ‘we forgot to teach our children about history and honor’. Memang begitulah, ternyata benar adanya, banyak orang tua yang melupakan atau mungkin kurang memperhatikan hal itu, tak tahulah apa namanya.

Akhirnya, setelah sekian lama, berbulan-bulan puasa, tak makan-tak minum (ya iyalah, dari kecil ampe sekarang udah berapa bulan coba saya puasa?!), seringkali saya berfikir bahwa sebenarnya bukan hanya ibu-lah faktor terbesar kesuksesan keluarga. Kalau saya, sering dengar kalau ibu nya pinter, anaknya seringkali ketularan gen dari ibu.. sering denger juga nggak?! jarang sekali loh, saya dapet cerita tentang ‘campur tangan’ Ayah.

Tapi, saya fikir, Allah memang sangat-sangat-sangat-sangat-Maha Adil. Kalau di Al-Quran, yang saya temukan nasihat orang tua ke anak itu, ya dari bapaknya ke anaknya. Lihat saja, pelajaran dari bapak Imran, bapak Ibrahim, bapak Zakaria, bapaknya Siti Maryam, dan bapak-bapak lainnya.. Sementara Ibu, yang nempel di otak saya adalah: telah mengandungnya dengan susah payah, menyusui, dan menyapihnya (bayi-red) selama dua tahun.

Terus apa hubungannya??

Sebenarnya, ini hanya pendapat saya, atas pengalaman selama beratus-ratus jam lamanya.

Yaps…. Ibu itu…. mencintai sang anak dengan sangat. Tanpa perlu di ucapkan pun, di matanya, sang anak akan tahu seberapa besar cintanya. Dalam lembutnya belaian Ibu, sang anak akan tahu betapa besar pengorbanan yang siap Ibu tanggung untuk sang Anak. Dalam marahnya, sang anak akan tahu, betapa sayang dan harapnya begitu besar untuk sang Anak. Dan dalam tangis dan doanya, Allah mungkin telah menyampaikan perasaan Ibu untuk sang Anak.

Sementara Bapak… ketika Bapak diam, sang Anak sulit membaca fikirannya. Ketika Bapak bercanda, terkadang sang Anak tak suka gurauannya. Apalagi ketika Bapak marah, tak kan pernah berani sang Anak melihat wajahnya. Ketika Bapak menangis melihat sang Anak, sang Anak hanya berfikir bahwa air mata tak cocok bagi karakter laki-laki Bapaknya.

Tapi… saat memberi nasihat, sang Anak hanya akan bisa tertusuk oleh kata-kata Bapaknya, sementara Ibu hanya terdengar men-ceracau saja bagi sang Anak. Saat dalam perjalanan, Bapak adalah teman yang setia, pemandu yang banyak tahu, sementara Ibu lebih banyak mengkhawatirkan sang Anak. Saat sholat berjamaah, doa-doa yang diucapkan Bapak meletupkan semangat, sementara doa Ibu, lebih terasa saat dipanjatkan di malam-malam heningnya.

Begitulah.. mungkin memang, pengajaran Bapak ada dalam panjangnya diskusi malam itu. Atau mungkin tersembunyi di perjalanan siang teriknya. Atau mungkin hanya ada di penghujung celoteh meja makan. Seringkali tak terungkap, dan membuat sang Anak lelah. 

Tapi Allah tahu…… mungkin karena itulah, nasihat itu tertulis dan terpatri dalam lisan Bapak bagi sang Anak, disertai ridho Ibu yang melingkupi sang Anak..

Tolonglah, jangan sampai saya, kamu, kita, lupa mengajarkan ‘prinsip’. Ajarkan tentangNya dan segala yang kamu tahu.. maka kita akan terus hidup pada diri sang Anak, sampai cucu-cicit kita kelak

Wallahualam.

  1. cuaparampam posted this