cuap-cuap pam-pam
Dampak destruktif gempa berupa puing-puing bangunan, termasuk pecahan genting, memicu ide tiga mahasiswi Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, yakni Selvie Agustina, Qori Putri Dewanti, dan Arum Dwicahyani, lantas memanfaatkan pecahan genting sebagai material agregat penyusun bata. Mereka kemudian menamakan produk itusmart H-Brick.
Agar lebih tahan terhadap guncangan gempa saat digunakan sebagai material pembangun dinding, bata itu dibuat dalam bentuk huruf H. Bata H ini merupakan pengembangan dari karya rekan-rekan mereka sebelumnya, yakni bata H dengan bahan kerikil.
Bata H diinspirasi dari interlock block (bata kait) yang banyak digunakan di luar negeri. Bata kait adalah material penyusun dinding yang mempunyai pengait untuk mengunci pergerakan akibat gaya. Bata ini merupakan pengembangan dari batako dengan menambahkan lips (pinggiran) pada sisi-sisi tertentu sebagai pengunci. Batako hanya mampu menahan goyangan gempa dari satu arah.
”Pada bata H sebelumnya, yang digunakan sebagai agregat adalah kerikil. Kami mengganti dengan pecahan genting yang ditambahkan serat limbah bubut baja agar dinding nantinya semakin kaku dan solid sehingga tahan guncangan,” kata Selvie.
