cuap-cuap pam-pam
Malam kemarin saya bermimpi, netral kawan, ingin kuceritakan, tuk ambil hikmah daripadanya..
Terceritakanlah, saya ini mendapat tugas dari PLN untuk survei dan diminta mendesain drainase di sebuah daerah pesawahan, karena disana mau dibuat jadi kolam renang untuk ajang olimpiade dunia (apa coba hubungannya PLN sama olimpiade renang?!)
Sekali lagi.. ini hanya mimpi kawan, ceritanya jarang sekali masuk akalnya.
Kemudian mulailah saya survei, ditemani Ibu saya, hehe, dan seorang perempuan yang tak saya kenal. Saya mulai sibuk mereka-reka akan seperti apa sistem drainase nantinya. Saya berjalan menyusuri pematang sawah yang ditumbuhi rumput, tapi jalan nya lebar, cukup untuk 3 orang berjalan berdampingan. Terkadang saya jatuh dengan sendirinya, entah mengapa, ketika saya bangkit dan tengok ibu, dia hanya tersenyum, tanpa bicara.
Tapi pernah juga melewati pematang yang sempit, hanya cukup tuk 1 orang saja. Tanahnya berbeda dari yang tadi. Disini tak ada rumput, tanahnya hitam dan retak, ketika saya injak tanahnya ‘melendut’. Sang perempuan berkata tanpa saya tanya, bahwa itu tanahnya asam. Namun syukurlah tanahnya kering, sehingga saya bisa melewatinya dengan mudah, walaupun serasa menginjak busa..tak nyaman..
Di penghujung jalan, tak ada lagi pematang, nampaknya saya mulai memasuki perkampungan. Saya lihat ada partisi-partisi disana-sini dengan banyak ukiran batik, cantik sekali.. Ketika saya melewati, tak dapat mata ini lurus kedepan, karena sibuk memperhatikan ukiran batik-batik itu. Sang perempuan menyuruh saya mempercepat langkah, tapi saya terus-terusan tengok ke belakang. Saya cabut pena dari saku kantong, ingin ikut melukisnya.. Tapi saking bagusnya, saya hanya berputar mengagumi, dengan berusaha menyusul langkah sang perempuan.
Tiba-tiba ketika perhatian saya tertuju pada ukiran, lewatlah dua orang teman lama saya, mereka tersenyum. Salah satu diantara mereka berkata ‘ya, gimana kabar Karisma?’
Hah? saya tergagap, kaget melihat kedatangan dan pertanyaan mereka. Tapi saya jawab pula. ‘ba..baik alhamdulillah’. Dan mereka berdua pergi..
Saya bingung, kenapa mereka menanyakan Karisma?! (bagi yang tidak tahu, karisma merupakan salah satu unit yang bercokol di Salman) kenapa dari sekian organisasi yang saya ikuti, karisma yang ditanyakan?! padahal saya bukan anggota nya sama sekali. Banyak pertanyaan yang timbul di kepala, mempertanyakan kejadian tadi.
Kemudian saya apit lengan Ibu, dengan kepala yang masih dipenuhi tanda tanya. Ibu melihatku, dan hanya berkata ‘tak apa?’. Dan saya hanya menggeleng. Sementara pikiran ini langsung menggerutuki teman sendiri (anggaplah namanya Hani). Jangan-jangan mereka salah mengira. Ah tidak.. kenapa tak mereka tanyakan M*t* atau H*S atau Asr*m* padaku? kenapa harus karisma yang ditanyakan? sungguh heran.. Sampai-sampai saya melupakan desain drainase yang saya rancang tadi..
===========================================================
Terbangunlah saya.. Termenung beberapa saat..
aih,aih, geli sendiri jadinya, kenapa Hani jadi saya gerutuki. Padahal mungkin saja ceritanya berbeda.. Dan lagi kenapa Hani yang jadi objek gerutukan saya, padahal banyak juga teman-teman karisma yang saya kenal.
Seketika itu memori terpanggil dengan sendirinya. Saya ingat kenal Hani tidak hanya di satu tempat, sering.. tak pernah pula dia membawa nama karisma. Tapi entah mengapa saya selalu meng-identik-kan dia dengan karisma. Sampai suatu hari menjelang saya lulus, saya baru sadar bahwa selama 4 tahun itu, kontak Hani saya beri nama ‘Hani Karisma’. Itupun setelah teman saya yang bertanya, ‘ya kenapa kamu namai Hani dengan Hani Karisma?’ Doeng.. tersadarlah saya, iya juga ya, kenapa?! Padahal yang lain biasanya saya beri nama dengan jurusannya, kecuali yang saya tidak tahu, kalau terlalu sering, malah hanya nama panjangnya saja.
Saya jadinya berfikir, ketika orang sudah berkecimpung banyak di bidangnya, apapun itu, orang akan secara tidak sadar mengaitkan siapa dia. Seperti saya yang tak sadar mengaitkan bahwa Hani=karisma. Jadilah ia nama belakangnya, menempel senantiasa, tanpa perlu diberitakan lagi.
Bagaimana dengan saya?! entahlah..
Bertahan itu merupakan soft skill tersendiri -pak ketua IA
Hikmah lainnya…..
satu..satu… aku sayang Ibu.. Lalalala… mari kita bahas di kesempatan lainnya ^_^
Wallahualam
p.s. peace… damai…. Hani karisma baca postingan ini nggak ya?!